KEUTAMAAN AHLI BAIT (KELUARGA SERTA KETURUNAN) NABI MUHAMMAD SAW

Nasab ahli bait/ahlul bait merupakan nasab yang mulia, karena mereka terlahir dari keturunan orang-orang pilihan, manusia terbaik yang ada di muka bumi. Namun kemuliaan nasab ini janganlah membuat kita lupa daratan kepada mereka, semisal terlalu berlebihan alias ghuluw atau menganggap mereka ma’shum dari dosa, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya bagaimana loyalitas yang benar terhadap ahli bait, cermati pembahasan berikut ini. Allahul Muwaffiq.
SIAPAKAH AHLI BAIT?
Telah terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang siapakah ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat yang shahih dari para ulama ahlussunah waljamaah, ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang diharamkan bagi mereka shodaqoh. Mereka adalah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya, serta seluruh kaum muslimin dan muslimah dari keturunan Abdul Muthalib dan keturunan Bani Hasyim bin Abd Manaf, Allahu a’lam
Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Telah terlahir Syaibah untuk Hasyim bin Abd Manaf dan dia adalah Abdul Muthalib, pada dirinyalah patokan kemuliaan. Tidak tersisa keturunan dari Bani Hasyim kecuali dari Abdul Mutholib saja” [Jamharoh Ansab Al-Arob hal. 14] [1]

KEUTAMAAN AHLI BAIT [2]

 

 


[1]. Allah Telah Menyucikan Mereka

Imam Muslim telah meriwayatkan dari jalan Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar, kemudian datang Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma dan memasukkannya bersamanya, kemudian datang Husain dan beliau memasukkanya pula, kemudian datang Fathimah Radhiyallahu ‘anhuma dan beliau memasukkan bersamanya, kemudian datang Ali Radiyallahu ‘anhuma dan beliau memasukkannya pula, kemudian beliau membaca ayat.
“Artinya : … Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” [Al-Ahzab : 33]
[2]. Pilihan Allah
Nasab ahlul bait merupakan nasab yang paling mulia, karena dari keturunan orang-orang pilihan. Cermatilah hadits berikut.

“Artinya : Dari Watsilah bin Asyqo Radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keturunan Bani Hasyim” [HR Muslim : 2276]

[3]. Berhak Mendapat Seperlima Harta Ghonimah Dan Harta Fa’i[3]
Allah berfirman.

“Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil” [Al-Anfal : 41]

Firman Allah tentang harta fa’i.

“Artinya : Apa saja harta rampasan fa’i yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, rosul, kerabat rosul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan…[Al-Hasyr : 7]

[4]. Tidak Halal Menerima Shadaqah
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya shadaqah itu tidak pantas bagi keluarga Muhammad, hanyalah shadaqah itu untuk orang-orang yang kotor”[4] [HR Muslim : 1072]

[5]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Berwasiat Kepada Mereka
Imam Muslim telah meriwayatkan dari jalan Yazid bin Hayyan dia berkata : Aku pernah pergi bersama Husain bin Sabroh dan Umar bin Muslim menuju rumah Zaid bin Arqom Radhiyallahu ‘anhu. Tatkala kami telah duduk di sisinya, Husain berkata : “Wahai Zaid, sungguh engkau telah meraih kebaikan yang banyak, engkau telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hadits-hadits beliau, pernah berperang bersama beliau, dan shalat dibelakang beliau. Sungguh engkau telah meraih kebaikan yang banyak, ceritakanlah kami hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wahai Zaid!”. Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Wahai anak saudaraku, demi Allah aku sekarang sudah tua, masaku telah lewat, aku pun telah lupa sebagian yang aku hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaih wa sallam maka apa yang aku ceritakan kepadamu terimalah, dan apa yang tidak aku ceritakan maka janganlah kalian mebebaniku”. Kemudian Zaid berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di hadapan kami pada suatu hari, beliau memuji Allah, menasehati, dan setelah itu beliau bersabda : “Ketahuilah wahai sekalian manusia, aku hanyalah manusia biasa, hampir datang seorang utusan Rabbku dan aku akan memenuhinya, aku tinggalkan kalian dua pedoman, yang pertama Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambilah Kitabullah itu, berpegang teguhlah. Lalu beliau melanjutkan : “Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”, beliau mengulang ucapannya sampai tiga kali”. Husain berkata : “Siapa ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Zaid? Bukankah istri-istrinya termasuk ahli baitnya?” Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Ya, istri-istri beliau termasuk ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ahli baitnya adalah orang-orang yang haram menerima shadaqah setelahnya” [HR Muslim : 2408]

[6]. Nasab Mereka Tidak Terputus Hingga Hari Kiamat
Berdasarkan hadits.

“Artinya : Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari Kiamat kecuali sebabku dan nasabku” [HR Thobari dalam Mu’jam Kabir 3/129/1, Harowi dalam Dzammul Kalam 2/108. Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shohihah 5/64 : Kesimpulannya, hadits ini dengan keseluruhan jalan-jalannya adalah shahih] [5]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tidak perlu diragukan wasiat untuk berbuat baik kepada ahli bait dan pengagungan kepada mereka, karena mereka dari keturunan yang suci, terlahir dari rumah yang paling mulia di muka bumi ini secara kebanggaan dan nasab. Lebih-lebih apabila mereka mengikuti sunnah nabawiyyah yang shahih, yang jelas, sebagaimana yang tercermin pada pendahulu mereka seperti Al-Abbas dan keturunannya, Ali dan keluarga serta keturunannya, semoga Allah meridhoi mereka semua” [Tafsir Ibnu Katsir 4/113]

[Disalin dari Majalan Al-Furqon Edisi 08 Tahun VI/Robi’ul Awal 1428 [April 2007]. Rubrik Tazkiyatun Nufus. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
__________
Foote Note
[1]. Lihat dalil-dali masalah ini dalam Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihin inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad.
[2]. Ulama Ahlus Sunnah telah sepakat akan keutamaan ahli bait dan dibencinya mencela mereka, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ali Al-Qari dalam Syarh Al-Misykah 5/602
[3]. Yang dimaksud dengan rampasan perang (ghonimah) ialah harta yang diperoleh dari orang-orang kafir dengan melalui pertempuran, sedang yang diperoleh tidak dengan pertempuran dianamakan fa’i.
[4]. Penyebab ahli bait haram menerima shadaqah, karena ahli bait telah Allah muliakan dan Allah sucikan dari segala kotoran. Sedangkan shadaqah untuk membersihkan harta dan jiwa manusia. (Syarah shahih Muslim 7/178]
[5]. Dalam sebagian jalan hadits, dseibutkan bahwa hadits ini di antara salah satu penyebab mengapa umar berkeinginan untuk menikah dengan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib. (Fadhl Ahli Bait hal. 62]

 

 

 

MENCINTAI AHLI BAIT NABI

Sebenarnya mencintai Ahl bait adalah salah satu ajaran pokok dalam Islam, sayang di kalangan Ahl Sunah agak sedikit dibicarakan, karena takut dicap Syiah, Padahal Imam Syafi’i mengatakan, ” Kalaulah mencintai Ahlul Bait dikatakan sebagai rafidi (Syi’ah), biarlah aku dikatakan rafidi”…

Kepada Ahl Bayt Nabi, umat Islam diwajibkan untuk mencintainya, menghormatinya dan mengikutinya.

 

A. Terminologi

Istilah yang dipakai adalah a) Ahl al-Bayt, b) Al al-Nabi, c) Al Bayt al-Nabi d) `Itrat al-Nabi. Semuanya berarti keluarga Nabi, Rumah tangga Nabi, atau keturunan Nabi

Yang termasuk dalam Ahl Bait sangat variatif, dari yang terbatas hingga sangat luas. Berikut makna yang termaktub :

a.. `Ali, Fatima, Hasan, and Husayn, dan keturunannya: Muhassan, Zaynab, and Umm Kulthum [anak`Ali and Fatima]; keturunan al-Hasan: Zayd, al-Qasim, Abu Bakr, `Abd Allah, `Umar, al-Hasan, `Abd al-Rahman, al-Husayn, `Amr, Muhammad, Ya`qub, Ja`far, Hamza, and Talha; keturunan al-Husayn: Abu Bakr, `Abd Allah, `Ali al-Kabir, `Ali Zayn al-`Abidin, `Umar, Fatima, Sukayna, Zaynab al-Sughra, and Umm Kulthum al-Sughra.

b. Istri-istri [mereka boleh menerima zakat, Hajar dalam Fath al-Bari (3:277) dari Ibn Battal]:

1. Khadija bint Khuwaylid. melahirkan : al-Qasim, `Abd Allah, Zaynab, Fatima al-Zahra’, Ruqiyya, & Umm Kulthum.
2. Sawda bint Zam`a
3. `A’isha bint al-Siddiq
4. Hafsa bint `Umar
5. Zaynab bint Khuzayma
6. Umm Salama, Hind bint Umayya
7. Zaynab bint Jahsh
8. Juwayriyya bint al-Harith
9. Safiyya bint Huyayy
10. Umm Habiba bint Abi Sufyan
11. Maymuna bint al-Harith
12. Marya al-Qibtiyya, melahirkan Ibrahim.

c. Banu Hashim dan Banu al-Muttalib. [mereka boleh menerima zakat Banu Hashim Banu al-Muttalib, dinyatakanby oleh Ibn Battal: dalam Shawkani di Nayl al-awtar (4:175) and oleh Nawawi dalam Sharh Sahih Muslim (5:36).]

 

B. Ayat/hadis Tath-hir (Kesucian Ahl Bait)

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)

Umm Salama menyatakan ayat ini diturunkan ketika Rasul melingkupi ke dalam pakaiannya `Ali, Fatima, al-Hasan, dan al-Husayn, dan mengatakan: “Ya Allah! Mereka adalah Ahlul Bait, Sehingga jauhkan kekotoran dari mereka dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya .” (Ahmad dalam Musnad melalui 6 rantai, JugaTirmidhi dengan beberapa rantai dia menyatakan hasan sahih, al-Hakim, and Tabarani). Riwayat ini sering disebut hadis tentang jubah.

Allah mengatakan, “Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait .”(33:33) Dia mengatakan, “isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (33:6) Zayd ibn Arqam menyatakan bahwa Nabi mengatakan, “Saya nyatakan demi Allah ! Ahlul Baitku!” tiga kali. kami menanyakan kepada Zayd Siapa Ahl , dia mengatakan “Keluarga Ali “, dan katanya, “keluarga’Ali, Keluarga Ja’far bin Abu Talib, keluarga Aqil bin Abu Tali dan keluarga al-‘Abbas.”(Muslim.)

 

C. Ayat/Hadis Mubahalah

“Mubahalah” ialah masing-masing pihak di antara orang yang berbeda pendapat mendo’a kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw.
Muslim, Tirmidhi (hasan sahih gharib), al-Hakim, dan lainnya menyatakan bahwa ketika Allah menurunkan ayat :”… maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta . (QS. 3:61) Sa`d ibn Abi Waqqas mengatakan: Rasul memanggil `Ali,
Fatima, Hasan, dan Husayn, dan berkata : “Ya Allah! Inilah familiku” (allahumma ha’ula’u ahli)

 

D. Hadis Tsaqalain (Dua pusaka)

“Saya tinggalkan kepadamudua pusaka : Kitab Allah dan Ahl Bait Nabi” (Muslim, Tirmidhi, dan Ahmad melalui banyak rantai). Dalam beberapa riwayat: “..Ktab Allah dan (orang yang dalam) mantelku (itrah): keduanya tidak akan terpisah sehingga mereka datang kepadaku pada hari pembalasan. …”

Ahmad dalam Musnad dan Muslim dalam Sahih-nya, meriwayatkan dari Zayd ibn Arqam, jugaal-Hakim, Ibn Hibban, al-Darimi, al-Bazzar, dan al-Tabarani:
Rasulullah berdiri dan berkata kepada kami di suatu tempat yang dikenal sebagai Khum, antara Mekah dan Madinah. Beliau berdoa kepada Allah dan memperingatkan kami untuk selalu mengingat Allah, kemudian beliau berkata, “Wahai manusia, saya adalah manusia biasa dan waktu ini adalah dekat ketika Tuhan akan datang kepadaku dan akan menanyakanku. Peganglah! Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka. Pertama, Kitab Allah, yang didalamnya berisi petunjuk dan cahaya … dan Ahl Baitku. Aku ingatkan kepadamu Ahl Bait Nabi! Aku ingatkan kepadamu Ahl Bait Nabi! Aku ingatkan kepadamu Ahl Bait Nabi! Huswayn ibn Sabra menanyakan Zayd, “Siapa Ahl Bait Nabi, ya Zayd? Tidakkah istr-istri beliau di antara ahl bait ?” Zaid menjawab, “Istri-istri adalah ahl baitnya, tetapi, Ahl bait (di sini) adalah mereka yang zakat dilarang baginya sesudah Nabi”. Huswain berkata, “Siapa mereka?” Dia menjawab” “keluarga’Ali, Keluarga Ja’far bin Abu Talib, keluarga Aqil bin Abu Tali dan keluarga al-‘Abbas. Zakat haram bagi mereka”

Versi Tirmidhi ( hadith hasan gharib) dinyatakan bahwa Zayd ibn Arqam berkata: Rasul berkata, ” Aku tinggalkan kepadamu yang jika kamu berpegang kuat kepadanya, kamu tidak pernah akan sesat sesudahku. yang satu lebih besar dari yang lain, yaitu Kitab Allah, tali yang memanjang dari bumi ke langit, dan ‘itrahku (Ahl bait). Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mereka datang kepadaku di hari pembalasan. Maka ikuti bagaimana kamu berbuat bersama mereka sesudahku”

 

E. Shalawat Kepada Keluarga Nabi

Kita diperintahkan untuk menyerukan shalawat kepada Ahl bayt Nabi. Ketika shahabat bertanya kepada Nabi bagaimana mereka seharusnyabershalawat, Nabi menjawab :
“Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad, istrinya dan keluarganya,sebagaimana engkau sampaikan shalawat kepada Inraim. Dan berilah barakahkepada Muhammad, istri dan keluarganya, sebagaimana engkau berikan kepadaIbrahim. Sesungguhnya, engkau Maha terpuji dan Maha Agung”(Bukhari dengan 2 rantai, Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad, Ibn Majah, and Malik)

Bahkan di dalam shalat kita disunahkan (menurut Imam Syafi’i bahkan wajib) untuk membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya di waktu tahiyat:
Allahumma shali ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad….

 

F. Ayat/Hadis Fa’i dan Khums

Allah memberikan kepada Ahl bait hak fa’i dan khums, dimana dinyatakan :

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim…” (59:7)

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang 613, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim,….” (8:41)

dari Hasan ibn `Ali, Umm Kulthum saudara `Ali, dan lainnya: “Sadaqa haram bagi keluarga Muhammad.” Bukhari dalam bab zakat, Ahmad melalui 5 sanad dan al-Darimi dalam Sunan…

 

G. Keutamaan dan keharusan mencintai Ahl Bait
Abu Ya`la dari Abu Hurayra, Nabibersabda : “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik kepada keluargaku sesudahku “.
al-Haythami dalam Majma` al-zawa’id (
6:40

), dan dikatakan : “Abu Ya`la merawikan dan semua
rawi terpercaya.”
Ibn Abbas menyatakan dari Rasulullah : “Allah mebagi menusia menjadi duakelompok, dan Dia menjadikan saya dalam kelompok terbaik. Allah berfirman ttg. “Golongan kanan” dan “golongan kiri”. Saya berada di golongan kanan dan saya yang terbaik dalam golongan kanan. Kemudian Dia membagi kedua golongan menjadi tiga. Dia berfirman, ” Golongan kanan dan golongan kiri dangolongan yang mendahului (sabiquna sabiqu)” (56:9). Saya di antara yang mendahului dan saya yang terbaik dari yang mendahului. Kemudian Dia membagi ke dalam tiga suku dan Dia memasukkan aku dalam suku terbaik. Dia berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dariseorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.“(49:13). Saya yang paling bertaqwa dan paling mulia dalampandangan Allah. Kemudian Dia membagi suku-suku dan memasukkan akudalam keluarga terbaik. Dia berfirman, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33) (Hadith at-Tabarani dan al-Bayhaqi.)
Nabi bersabda ttg Keutamaan Ali kw. & Al-Abbas ra:
“Siapa yang menjadikan aku pemimpin, Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, dukunglah orang yang mendukungnya dan lawanlah orang yang melawannya ” (Ibn Hanbal.)
“Hanya orang beriman yang mencintainya (Ali) dan hanya orang munafik yang membencinya” (Muslim.)
Dia mengatakan kepada al-Abbas,”Demi Yang jiwaku ditangan-Nya, iman tidak akan masuk ke dalam dada seseorang hingga dia mencintai Allah dan Rasulnya. Barangsiapa merugikan pamanku berarti telah merugikanku. Paman seseorang adalah seperti ayahnya” (At-Tirmidhi dan Ibn Majah.)
Dia juga mengatakan kepada al-Abbas, “Masukkan Ali dengan anakmu, pamanku”. Kemudian dia mengumpulkan mereka dan menutupi mereka dengan jubahnya, dan berkata, “Ini pamanku ayah dari keduanya dan inilah ahl baitku, maka jagalah mereka dari neraka sebagaimana aku menjaga
mereka”. Malaikat di pintu dan tembok berkata, “Amien!Amien!” (Al-Baihaqi)
Ttg. mencintai Hasan & Husein ra.
Rasul biasa memegang tangan Usama ibn Zayd dan al-Hasan, kemudian berkata, “Cintailah mereka, Ya Allah, karena aku mencintai mereka” (al-Bukhari)
Abu Bakr berkata, ” Hormati Muhammad dengan mencintai ahl baitnya”. Dia juga berkata,”Demi yang jiwaku di tangan-Nya, yang dekat dengan Rasul Allah adalah yang lebih dekat kepadaku daripada keluarga sendiri, ” (Bukhari,dalam dua riwayat)
“Allah mencintai orang yang mencintai Hasan “(At- Tirmidhi.)
Juga dikatakan, ”
‘Uqba ibn al-Harith mengatakan, “Saya lihat Bakr meletakkan al-hasan kepundaknya dan mengatakan,”Demi ayahku, dia mirip Rasul! Dia tidak miripAli!” Ali tertawa.Abu Bakr ibn ‘Ayyash berkata, “Jika Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Ali datang kepada saya, saya akan memulai dengan keperluan Ali lebih dulu. Karena kedekatan (kekeluargaannya) dengan Rasulullah saya lebih suka jatuh dari langit ke bumi daripada mendahulukan mereka dibanding dia (Ali)”

 

 

 

Ttg. keluarga Rasul yang lain
Rasul mengatakan pada Umm Salama, “jangan menyakitiku dengan menyakiti Aisya”.(Al-Bukhari.)
Diriwayatkan bahwa ‘Abdullah ibn Hasan ibn Husayn sedih, “saya datang ke ‘Umar ibn ‘Abdu’l-‘Aziz ketika saya perlu sesuatu dan dia berkata,” Jika kamu mempunyai keperluan, kemudian datang kepadaku atau menulis untukku. Saya malu sebelum ‘Allah melihatmu di pintuku'” (Meski dia khalifah, dia malu )
Ibn Umar melihat Muhammad ibn Usama ibn Zayd dan berkata Dia berkata,”itu adalah Muhammad ibn Usama”, Ibn Umar membungkukkan kepalanya dan memegang tanah dan berkata, “Jika Rasulullah melihat dia dia akan mencintainya”
Ketika ‘Umar ibn al-Khattab memberi anaknya, Abdullah 3000, dan Usama ibn Zayd 3500, Abdullah bertanya, “Mengapa dia diberi lebih? Demi Allah, dia tidak berperang melebihi saya.” Dia menjawab,”Karena Zayd lebih dekat kepada Rasulullah dibanding ayahmu, dan Usama lebih dekat
dibanding kepadanya dibanding kamu, sehingga aku lebih menyukai kecintaan Nabi dibanding kecintaan saya”
Abu Bakr dan’Umar biasa mengunjungi Umm Ayman, bekas budak Nabi, Mereka mengatakan : “Rasulullah biasa mengunjunginya”
Ketika Halima as-Sa’diyya datang kepada Nabi, dia mengulurkan jubahnya kepadanya dan melayani apasaja yang dibutuhkannya. Sesudah Rasul wafat dia datang ke Abu Bakr dan Umar, dan mereka melakukan hal yang sama.

 

Khulasah

Jadi, mencintai Ahl Bait adalah merupakan salah perwujudan dari mencintai Rasulullah saw. Mencintai ahl bait Nabi dengan demikian merupakan salah satu dari ajaran pokok ajaran Islam….
Sebagai bukti kecintaan kita hendaklah kita :
– mencintai dan menghormati mereka
– bershalawat untuk mereka
– mengikuti ajarannya
– membela mereka
Jika aku dicintai, maka keluargaku yang aku cintai juga seharusnya dicintai” [Sahih al-Tirmithi]
“Bagi kalian, keluargaku adalah seperti perahu Nuh dan siapa yang menaikinya, dia akan selalu diselamatkan, dan siapa yang tinggal akan terbunuh” [Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal]

 

Para ahlul bait di sunnahkan untuk selalu bersholawat kepada rasulullah saw di luar sholat fardhu agar selalu mendapatkan hidayah Allah saw dan mendapatkan syafaat dari rasulullah saw, terutama karena mereka merupakan keturunan langsung dari rasulullah saw.

 

Doa Nabi Muhammad SAW

Pada pernikahan putri beliau,

Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Thalib :

“Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya,

memberkati mereka berdua dan kiranya Allah SWT

meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya

pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta

pemberi rasa aman bagi umatnya.”

 

Faedah dan Buah Sholawat Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam:

Ibnul Qoyyim menyebutkan 39 manfaat sholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala
2. Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca sholawat satu kali.
3. Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.
4. Diangkat baginya sepuluh derajat.
5. Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan sholawat, dan doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.
6. Penyebab mendapatkan syafa’at sollallohu ‘alaihi wa sallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.
7. Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.
8. Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.

9. Mendekatkan hamba dengan nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.
10. Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bersholawat untuk orang yang bersholawat.
11. Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab sholawat dan salam orang yang bersholawat untuknya.
12. Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pada hari kiamat.
13. Menghilangkan kefakiran.
14. Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam ketika namanya disebut.
15. Orang yang bersholawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati dan memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.
16. Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan kemaslahatannya, karena orang yang bersholawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa ini terkabul dan balasannya sama dengan permohonannya.
17. Nama orang yang bersholawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya sholawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dengan kebaikan di sisi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam.
18. Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam: “Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu sholawatnya untukku datang dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]
19. Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.
20. Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia bersholawat dan menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.
 
 

 

 

 

Ditulis dalam Uncategorized. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “KEUTAMAAN AHLI BAIT (KELUARGA SERTA KETURUNAN) NABI MUHAMMAD SAW”

  1. dudi Says:

    “12 RIBU TAHUN SEBELUM ADAM… MUHAMMAD SAW MANUSIA BIASA”
    Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, adalah karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi rohani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.
    SESUNGGUHNYA dalam diri Rasulullah saw terdapat suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak menyebut Allah (QS. 33:21)
    Benarkah Nabi saw Manusia Biasa – dan Mengapa Wajib Mencintai Beliau dan Keluarganya?
    Abdullah bin Amr berkata: Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata: “Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw? Padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.” Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah. Ia kemudian menunjuk kepada mulutnya dan berkata: “Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang ke-luar dari sini kecuali kebenaran.”
    Kedudukan Nabi dalam al-Quran
    Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur. Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulullah sebagaimana dalam al-Quran.
    1. Keimanan semua rasul kepada Nabi. Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw berkata: Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama.
    Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Muhammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah kalian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.” (QS. 3:81)
    2. Kabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para penganut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya:
    Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (Muhammad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. 2:129).
    3. Penciptaan Nabi Muhammad saw sebelum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nur” atau cahaya. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
    Allah telah menciptakanku dalam wujud nur yang bersemayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum menciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru berpisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib. Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfirman: Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219).
    4. Nabi Muhammad saw adalah manusia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33:
    “Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”. Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri.
    5. Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya, semuanya ; di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt.
    Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan semuanya semata-mata adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. 53:3-4).
    6. Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman:
    “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang dibawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarangnya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7)
    7. Dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman: Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27). Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini.
    8. Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4).
    Nabi Sebagai Manusia Biasa?
    Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah dipersiapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperintahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagainya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manusia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as. Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagai-mana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Muhammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia.
    Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum musyrikin terhadap Nabi saw bahwa ia bukan dari golongan malaikat, atau (paling tidak) ‘bekerjasama’ dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa yang menganggapnya sebagai Tuhan.
    Tetapi, ketika kita mengatakan bahwa Nabi adalah ‘manusia biasa’ seperti manusia lainnya, tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau segalanya lalu berakhir sesudah beliau wafat. Tidak. Sama sekali tidak demikian. Kesucian, keterpeliharaan dari dosa (ma’sum), hidup abadi bersama Allah sesudah kematian, atau kemampuan berhubungan dengan-Nya sesudah kematian, adalah perkara ruhani yang mungkin saja dicapai oleh manusia asalkan (jika) ia telah mencapai kedudukan ruhani yang begitu tinggi, atau katakanlah mencapai maqam ‘Insan Kamil‘.
    Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya. Namun, Allah juga menciptakan unsur lainnya pada manusia, yakni ‘ruh’ Allah, yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk mana pun, bahkan dibanding malaikat sekali pun.
    Tingginya kedudukan itu terjadi jika — melalui ruh itu — manusia tadi mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah sebabnya mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muhammad telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani. (Salah satu buku yang memuat kisah perjalanan ini dan sering dibaca pada peringatan Maulid Nabi saw, misalnya, adalah kitab “Samtu ad-Dhirar“, karya Habib Ali Al-Habsyi).
    Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi.
    Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.
    Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu ‘hanya manusia seperti mereka’, orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai nabi atau rasul. Di sini, baiklah kita tengok ayat-ayat Qur’an ini:
    “Dan tidaklah menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka membuat alasan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94).
    Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimaninya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7).
    Selain itu, mereka yang mengaggap maulid itu bid’ah, biasanya karena menyamakannya dengan sebuah tindakan ‘ibadah mahdhah‘ (mah-dhoh) . Padahal perayaan atau peringatan Maulid yang dimeriahkan dengan berbagai kegiatan sebagai tanda sukacita atas kelahiran Rasul saw bukan merupakan ‘ibadah mahdhah‘.
    Nah, dalam kaidah Islam, ada aturan penting bahwa dalam segala ibadah mahdhah, maka prinsipnya adalah “semua tidak dibolehkan kecuali yang yang telah ditetapkan.” Contoh ibadah mahdhah itu adalah ibadah dalam rukun Islam yang lima itu (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji). Maka, dalam hal ini, siapa pun tidak boleh menambahi sesuatu atau mengurangi sesuatu di dalamnya. Dengan kata lain, tidak boleh ada kreativitas di dalam ibadah mahdhah itu. Sehingga siapa pun tidak boleh, misalnya, menambah jumlah roka’at solat subuh menjadi tiga — karena merasa ingin lebih dekat dengan Allah.
    Pasangan ibadah mahdhah adalah ‘muamalah’. Dalam hal ini, prinsipnya semua (kreativitas) diperbolehkan, kecuali yang nyata-nyata dilarang. Muamalah, adalah semua selain ibadah mahdhoh. Contohnya adalah berdakwah lewat telepon, atau membaca solawat dan puji-pujian kepada Nabi saw di masjid pada saat di luar solat, menggambar komik dakwah, atau ketika menunggu imam masuk ke masjid. Nah, yang begitu itu, prinsipnya boleh — bukan bid’ah. Logis kan? Masa orang tidak boleh berkreasi, sepanjang kreativitasnya itu dalam koridor ‘amar ma’ruf nahi munkar’? Masalahnya, mungkin yang suka menuduh bid’ah itu tidak pernah tahu apa yang dibaca pada saat peringatan Maulid di sana sini di seluruh dunia. Bukankah yang dibaca adalah kalimat-kalimat ‘toyyibah‘ (baik, manis), kisah sejarah dan akhlak Nabi saw (agar orang meneladani akhlaknya), dan syair-syair cinta kepada Allah, kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau?
    Sikap kepada Nabi saw
    Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya.
    Coba perhatikan ayat shalawat (solawat). Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya telah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukan-nya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh ta’dzim (pengormatan) dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya.
    Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya (berarti) telah memutus hubungan silaturrahmi dengannya.
    Masa depan di tangan Islam. Berkat jasa Nabi saw milyaran orang di dunia menjadi Muslimin (meski ‘Barat’ memotretnya secara ‘menyeramkan’).
    Pada ayat tawassul kita bahkan diperingatkan Allah: jika ingin dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan permohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita (manusia yang bukan nabi), sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3).
    Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkan Nabi saw lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah. Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4).
    Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran Tuhan saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya, hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri (seperti sering dituduhkan kaum Wahhabi-Takfiri)?
    Sebenarnya tidak ada kultus; karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Nabi Muhammad saw justeru mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya, seperti diperintahkan al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau. Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33:57).
    1. Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan bershalawat kepadanya (QS. 33:56). Arti shalawat Allah kepada Nabi adalah ‘penganugerahan rahmat dan kasih sayang-Nya’; shalawat malaikat adalah permohonan limpahan rahmat-Nya. Demikian pula shalawat orang-orang beriman.
    2. Orang-orang beriman diperintahkan untuk tidak memperlakukan Rasulullah sebagaimana perlakuan mereka terhadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasul harus dengan suara yang pelan, tidak boleh teriak-teriak, karena hal itu akan menghapus pahala amal mereka (QS. 49:2-3).
    3. Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati ‘kekasih’-Nya itu. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah, wewenang “memberi syafaat” kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pengabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umatnya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya.
    4. Nabi saw ditetapkan sebagai perantara (wasilah) antara diri-Nya dengan manusia. Bahkan merupakan salah satu syarat terkabulnya doa. Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih (QS. 4:64). Tawassul kepada Nabi Muhammad saw ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang salih jauh sebelum kelahirannya.
    Banyak riwayat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa telah bertawassul kepada Nabi Muhammad saw saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Tatkala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatanya. Dalam permohonannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad saw: “Ya Allah, melalui kebesaran Muhammad, aku mohon ampun pada-Mu kiranya Engkau ampuni dosaku.”
    • Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana kamu tahu Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?”
    • Adam berkata, “Tuhanku, ketika Engkau cipta-kan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengangkatkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Ra-sûlullâh. Aku tahu Engkau tidak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Engkau cintai.”
    • Allah Swt berkata, “Engkau benar, Adam. Muhammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai Adam, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan-mu.”
    Untuk keterangan lebih lengkap tentang hal ini, baik juga membaca beberapa artikel ilmiah yang antara lain menuliskan kewajiban mencintai Nabi dan keluarga (ahlul bait)-nya; antara lain berdasarkan dalil al-qur’an dan hadis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: