SUSU KEDELAI dan rematik

Susu kedelai dan reumatik – Menentukan bentuk terapi dan pengobatan untuk reumatik memang harus didsarkan pada jenis penyakitnya. Namun, dr Samsul Ashar, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Kediri, memberikan alternatif pencegahan. Yakni dengan mengonsumsi susu kedelai.

Konsumsi susu kedelai ini, menurut ahli rematologi ini, harus diintensifkan ketika menginjak usia 40 tahun. Bahkan, pada wanita harus lebih awal, yakni ketika menginjak usia 35 tahun. “Tingginya angka penyakit rematik itu bisa dicegah dengan mengonsumsi susu kedelai yang kaya estrogen,” kata dokter penyakit dalam ini.

Menurutnya, pada rentang usia itu, 35 tahun untuk wanita dan 45 tahun untuk pria, tubuh rentan terkena reumatik.

Untuk mengimbangi penuaan tulang rawan sendi itulah, Samsul menganjurkan agar mengonsumsi susu kedelai atau kedelai pada usia tersebut. Konsumsi kedelai yang cukup akan menghasilkan estrogen yang bisa mengimbangi penurunan hormon estrogen pada usia diatas 35 tahun. “Fungsi estrogen diantaranya untuk merawat tulang dan kulit agar tetap dalam kondisi fisiologis yang normal,” lanjutnya.

Jika penurunan fungsi hormon estrogen tidak diimbangi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung estrogen, penurunan fungsi sendi akan semakin parah. Kerja sel osteoblas dan osteoplas dalam sendi tidak akan seimbang. Tanpa estrogen, sel osteoblas akan loyo. Sedangkan sel osteoplas akan tetap aktif. Hal ini pula yang memperparah osteoartritis pada manula.

susu-soya.jpglalu bagaimana agar terhindar dari osteoartritis? Samsul mengatakan, ada dua cara untuk mencegahnya. Yaitu, dengan cara mengonsumsi obat konvensional jenis Hormon Reducement Therapy (HRT). Atau dengan cara tradisional yaitu mengonsumsi kedelai atau susu kedelai.

Cara lain, lanjut Samsul, bisa dilakukan dengan olah raga. Jenis olah raga yang cocok untuk mencegah osteoartritis adalah olah raga berenang. “Juga jangan takut berjemur sinar matahari di bawah pukul 09.00. Ini bisa membantu penyerapan kalsium dalam tubuh yang bisa membantu fungsi tulang” tegas bapak dua anak ini.

Untuk orang yang sudah menderita osteoartritis, Samsul meminta mereka menghindari tekanan tubuh yang berlebihan. Caranya, dengan melakukan penurunan berat badan. Semakin banyak berat badan seseorang, tekanannya semakin tinggi dan memicu osteoartritis. Untuk kegiatan olah raga juga harus dipilih yang ringan. Yaitu, olah raga bersepeda atau jalan kaki. “Kurangi lari dan jogging,” pesannya.

dikutip dari harian Radar Kediri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: