Stop cabuti UBAN!


Pada umumnya, uban memang tidak bisa dikembalikan menjadi hitam, kecuali pada mereka yang menderita gangguan metabolisme, khususnya orangtua. Secara medis, uban juga tidak bisa diobati. Jika penyebabnya faktor genetik, yang bisa dilakukan hanyalah mencat rambut. “Sebaiknya jangan mencabut uban karena justru akan mengurangi jumlah helai rambut.

Akibatnya, rambut malah jadi tipis, sementara jumlah uban tetap. Lebih baik cari jalan lain untuk mewarnai ubannya tersebut.” Rambut beruban sebetulnya memang harus sering dicat. “Soalnya, rambut itu kan tumbuh terus, sebulan tumbuh rambut baru sepanjang 1 cm sehingga ujungnya menjadi uban lagi dan harus dicat lagi.”

Tentu, cat rambut memiliki efek samping. Berdasarkan bahannya, cat rambut dibagi dua, yakni cat rambut dari bahan kimia dan car rambut dari tumbuh-tumbuhan (hena). Cat rambut dari zat kimia selama ini disebut-sebut bisa menyebabkan kanker darah. “Meskipun sebetulnya belum bisa dibuktikan secara pasti,” kata Tjut.

Yang pasti, cat rambut bisa memicu eksim kontak (dermatitis kontak). “Timbul rasa gatal, biasanya dari kepala, terus ke muka dan bisa pula badan. Bahkan, pada bentuk yang agak hebat, timbul urtikaria (bengkak biduran) yang cepat menjalar. Begitu pakai, langsung bengkak biduran di kulit kepala sampai akhirnya bengkak pada saluran pernapasan yang bisa berakibat fatal.” Sementara kalau eksim, tipenya lambat. “Sekarang kena cat rambut, besoknya baru gatal-gatal.”

Oleh karena itu, sebelum memakai cat rambut sebaiknya dicoba dulu di belakang telinga. “Oleskan dan biarkan selama 24 jam. Kalau tidak ada timbul rasa gatal atau pembengkakan, berarti cocok,” saran Tjut.

Jenis kedua adalah cat rambut dari tumbuhan yang biasa disebut hena. “Ini lebih aman karena mengandung substansi organik dari tumbuh-tumbuhan alam. Efek sampingnya tidak terlalu banyak. Hena ini juga mengisi bagian dalam rambut. Sementara cat rambut kimiawi, hanya melapisi bagian luar rambut, tidak bisa meresap ke dalam rambut.”

Selain itu, ada dua jenis cat rambut, semipermanen dan permanen. “Kalau yang semipermanen dicuci beberapa kali juga akan hilang, sedangkan yang permanen tak hilang. Jadi, harus diulang setiap sekitar 3-4 minggu.” Namun, ujar Tjut, kita juga harus kompromi terhadap rambut. “Boleh mengecat kapan saja asal kualitas rambut diperhatikan. Misalnya kalau rambut terlalu kering, sebaiknya pakai kondisioner (pelembab).”

Juga, harus mengetahui perawatan pencuci rambut. Misalnya, gunakan sampo yang tidak terlalu alkalis (terlalu berbusa) sehingga malah membuat rambut jadi terlalu kering. “Namun, kalau sudah ada tanda-tanda rambut porous (rapuh), pengecatan harus dihentikan, tunggu sampai rambut baru tumbuh.”

Dari beberapa sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: